Panen kelapa sawit

Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Tumbuh 5,49 Persen, Pemerintah Dorong Hilirisasi dan Nilai Tambah

Posted on 2026-09-17 07:11:44 dibaca 78 kali

JAKARTA, SAWTSUMATERA.ID – Ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunan kelapa sawit mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,49 persen sepanjang periode Januari hingga Juli 2026 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Capaian positif ini makin memperkuat kontribusi komoditas kelapa sawit terhadap ekspor nasional sekaligus membuktikan besarnya potensi perkebunan Indonesia di pasar internasional.

BACA JUGA:Harga TBS Tertinggi di Dharmasraya Tembus Rp4.027 per Kilogram di PT AWB

Pertumbuhan ekspor komoditas kelapa sawit ini berjalan selaras dengan penguatan sektor pertanian dari hulu ke hilir. Langkah yang terus didorong meliputi peningkatan produktivitas perkebunan, peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, hingga pengembangan industri pengolahan guna mendongkrak daya saing serta nilai tambah di dalam negeri.

BACA JUGA:Tujuh UMKM Binaan PTPN IV Regional IV Ramaikan JBC Festival

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa status Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar dunia harus dimanfaatkan secara optimal melalui program hilirisasi.

"Indonesia ini salah satu produsen sawit terbesar dunia. Ini kekuatan kita. Jangan hanya ekspor bahan mentah, tetapi kita dorong hilirisasi supaya nilai tambahnya semakin besar," ujar Mentan Amran.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penguatan ekspor kelapa sawit berbanding lurus dengan pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia yang mencapai US$160,01 miliar atau naik 5,21 persen. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak kelapa sawit di pasar global menjadi salah satu pemicu utama lonjakan tersebut.

BACA JUGA:Harga TBS Kelapa Sawit di Dharmasraya Tembus Rp4.027 per Kilogram di PT AWB

"Pada Juli tahun 2026, secara umum harga komoditas di pasar global menunjukkan peningkatan secara year on year. Kenaikan harga secara tahunan terjadi pada kelompok pertanian, energi, logam mulia, dan juga logam dan mineral. Peningkatan harga komoditas pertanian utamanya didorong oleh peningkatan harga minyak sawit," ujar Ateng.

Sektor industri pengolahan sendiri berhasil mencatatkan pertumbuhan 7,16 persen sepanjang Januari–Juli 2026. Mentan Amran menegaskan bahwa penguatan industri pengolahan berbasis kelapa sawit ini harus memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan para petani di tingkat hulu.

"Yang paling penting adalah bagaimana nilai tambah itu kembali kepada petani dan pekebun. Produktivitas kita tingkatkan, kemudian hilirisasi kita dorong. Jadi dari hulu sampai hilir harus kuat," katanya.

Peluang pasar ekspor komoditas kelapa sawit pun kian terbuka lebar, salah satunya menuju Tiongkok yang mencatatkan nilai ekspor nonmigas sebesar US$40,62 miliar atau naik 18,01 persen. Produk berbasis kelapa sawit dalam kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS15) menjadi salah satu komoditas utama dalam aktivitas perdagangan tersebut.

Mentan Amran kembali menekankan pentingnya komoditas kelapa sawit dalam menopang perekonomian masyarakat serta daya saing bangsa di kancah internasional.

"Pertanian harus menghasilkan, harus memberikan nilai tambah. Kita ingin produk pertanian Indonesia semakin banyak masuk pasar dunia dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi petani," tegasnya.(*)

Copyright 2025 SawitSumatera.id

Alamat: Jambi

Telpon: -

E-Mail: info@sawitsumatera.id