Mengenal Nurpandi, Sosok Petani Sawit di Muaro Jambi yang Tangguh Hadapi Tantangan Perkebunan
SAWITSUMATERA.ID- Menelusuri barisan pohon kelapa sawit di bawah terik matahari sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup Nurpandi (29), seorang warga Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.
Selama delapan tahun terakhir, sosok petani muda ini menggantungkan seluruh penghidupan keluarganya pada hasil perkebunan kelapa sawit. Lewat peluh dan kerja keras yang konsisten, ia berjuang tanpa lelah demi memenuhi setiap kebutuhan harian istri dan seorang anak tercintanya.
BACA JUGA:Toyota Hilux Rangga Jadi Pilihan Kendaraan Niaga untuk Mendukung Usaha Sawit di Jambi
Bagi Nurpandi, menjadi seorang petani sawit bukanlah pekerjaan yang sekadar memetik hasil saat musim panen tiba. Kesehariannya diisi dengan serangkaian perawatan intensif yang membutuhkan ketelitian dan stamina fisik yang kuat. Ia harus rutin membersihkan lahan dari gulma serta memangkas pelepah-pelepah tua agar pertumbuhan tanaman tetap terjaga secara optimal. Seluruh proses perawatan tersebut bermuara pada siklus panen yang dilakukan setiap dua minggu sekali, atau sekitar dua kali dalam kurun waktu satu bulan.
BACA JUGA:Harga TBS Sawit Dharmasraya Tembus Rp 3.764/Kg, Brondolan Capai Rp 3.760/Kg Periode 19 Oktober 2026
Namun, jalan yang ditempuh Nurpandi tidak selalu mulus tanpa hambatan. Di balik ketekunannya merawat kebun, ia kerap dihadapkan pada tantangan alam yang cukup berat, terutama saat musim kemarau melanda. Cuaca ekstrem dan berkurangnya pasokan air belakangan ini memberikan dampak langsung terhadap kualitas tanaman kelapa sawit di kebunnya. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, kondisi kemarau membuat buah sawit menjadi jauh lebih kering karena kekurangan asupan air. Pohon-pohon sawit memang terlihat lebih banyak mengeluarkan bunga, tetapi perkembangan buahnya tidak dapat tumbuh secara maksimal seperti yang diharapkan.
BACA JUGA:Riau Kokoh di Puncak Ranking TBS Sawit Nasional, Jambi Masuk 7 Besar Periode Mid-Oktober 2026
Tantangan yang dihadapi sosok Nurpandi ternyata tidak berhenti pada dinamika kondisi cuaca dan perubahan kualitas tanaman semata. Dari segi operasional, ia juga harus memutar otak akibat melonjaknya biaya perawatan kebun, khususnya harga pupuk urea yang mengalami kenaikan signifikan di atas harga normal. Kenaikan harga sarana produksi pertanian ini secara otomatis memperbesar pembengkakan pengeluaran harian yang harus diperhitungkan dengan cermat dalam mengelola operasional kebun sawitnya.
Meski demikian, jadwal panen rutin tetap berjalan sebagaimana mestinya. Nurpandi menjual seluruh hasil panen kebunnya melalui suplayer lokal dengan patokan harga yang berada di kisaran Rp3.600 per kilogram. Melalui saluran penjualan tersebut, pendapatan dari komoditas sawit inilah yang menjadi benteng utama penyokong finansial rumah tangganya.
BACA JUGA:Lahan Bekas Kebakaran Hutan di Dharmasraya Ditemukan Ditanami Kelapa Sawit Secara Ilegal
“Penjualan hasil panen sawit ini merupakan satu-satunya sumber penghasilan yang saya andalkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari,” ujar Nurpandi saat menceritakan perjuangannya mengelola kebun sawit di Desa Mekar Jaya.
Perjuangan Nurpandi mencerminkan ketangguhan seorang kepala keluarga yang pantang menyerah. Di tengah bayang-bayang fluktuasi biaya pupuk dan perubahan cuaca, sosok Nurpandi terus melangkah mantap merawat kebun demi menjamin masa depan dan kesejahteraan keluarga kecilnya.(*)